Corat-coret



Buletin Advent II

Edisi II: Minggu Advent II, Pembawa Damai Sejahtera

Hari ini kita memasuki Masa Raya Advent, dan minggu ini adalah Minggu Advent II. Dalam Masa Raya Advent dan Natal, kita sebagai jemaat berusaha untuk bersama-sama menghayati arti penantian. Untuk itulah, Komisi Iman, Ajaran dan Ibadah GPIB Jemaat Paulus Jakarta mengeluarkan buletin mingguan yang bisa berisi renungan, ilustrasi, doa, puisi, lagu atau bahkan permainan.

Tema besar kita diambil berdasarkan Tema Natal GPI-KWI, Yesus Kristus Pembawa Damai Sejahtera (bdk. Efesus 2:14). Tema tersebut dijabarkan dalam buletin Advent berdasarkan gelar bagi Kristus dalam lagu advent, O Datanglah Imanuel (KJ 81). Minggu ini kita menghayati bait kedua dari lagu tersebut:

 

O datang, Tunas Isai, patahkan belenggu pedih

dan umat-Mu lepaskanlah dari lembah sengsaranya.

Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

 

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menyadarkan kita semua, betapa pentingnya arti penantian sebelum memasuki masa raya Natal. Seringkali kita langsung hanyut dalam suasana Natal tanpa menghayati makna penantian itu sendiri. Ingatlah betapa kita dulu semasa kecil amat sangat menantikan peringatan hari ulang tahun? Ditunggu-tunggu hingga hari-H tiba. Rasanya jarang sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari, orang yang mau ulang tahunnya dirayakan sebelum jatuh pada harinya. Lebih banyak orang yang merayakan ulang tahun sesudah harinya. Demikian pula dengan peringatan dan penghayatan Masa Raya Natal. Apa benar kita ingin Yesus lahir prematur? Memang, kita juga sedang dalam masa penantian besar. Oleh karena itu, bersiaplah menantikan kedatangan-Nya. Marilah bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal!

 

 

Minggu, 10 Desember 2006

Jadikan Aku Alat Damai Sejahtera-Mu

 

Dalam nubuat di Yesaya 9:5 yang berbunyi, “ … dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai,” Yesus disebut Raja Salam atau Raja Damai.

Sayang, kata salam dan damai sudah agak merosot artinya. Salam diartikan orang sebagai tabik. Misalnya dalam ucapan “kirim salam”. Kalau orang mengatakan bersalaman, artinya hanya berjabat tangan. Kata damai pun diartikan sebagai keadaan tidak perang. Padahal maksud sebenarnya adalah jauh lebih luas dan dalam.

Latar belakang kata damai atau salam di Alkitab adalah kata Ibrani: syalom. Arti kata syalom dapat kita lihat dari contoh-contoh berikut ini:

Jika bangsa dan negara berada dalam persatuan, tak terpecah dan tak terkotak, maka dikatakan bahwa bangsa dan negara berada dalam syalom. Di sini syalom berarti keutuhan.

Jika dua orang atau dua kelompok berdamai kembali dan memulihkan lagi hubungannya setelah beberapa waktu terputus atau renggang, maka dikatakan antara kedua orang atau kelompok itu terdapat syalom. Di sini syalom berarti keselarasan.

Jika panen berhasil dan tiap orang tercukupi kebutuhan hidupnya, maka disebutlah rakyat hidup dalam syalom. Di sini syalom berarti damai sejahtera atau makmur atau berkat.

Jika suatu perjalanan telah kita lewati dengan baik, tanpa gangungguan atau kecelakaan, maka dikatakan kita telah mendapat syalom. Di sini syalom berarti selamat.

Demikianlah syalom mengandung arti yang luas dan dalam. Tiap kali Alkitab berkata tentang damai sejahtera, maka yang dimaksud adalah syalom, yakni utuh, selaras, berkat, selamat, bahagia, sehat, tertib, semua berada dan berfungsi sebagaimana seharusnya.

Yesus disebut Raja Damai. Pada kelahiran-Nya malaikat mengatakan, “Damai sejahtera di antara manusia” (Luk. 2:14). Dengan kelahiran Yesus, maka dimulailah suatu zaman baru di mana Allah bersedia memulihkan kembali hubungan dengan manusia. Keadaan damai antara manusia dengan Allah menghasilkan pula keadaan damai di antara manusia.

Tetapi damai sejahtera bukan turun begitu saja dari langit. Ia harus diusahakan, dengan itikad baik dan kesungguhan.

Ada gereja-gereja yang mempunyai kelaziman menaikkan doa Franciscus dari Asisi pada kebaktian Natal. Sebagian dari doa itu berbunyi:

Ya Tuhan, jadikanlah aku alat damai sejahtera-Mu

supaya aku mengasihi, di mana ada kebencian

memaafkan, di mana ada saling menghina

mempersatukan, di mana ada pertentangan

menimbulkan pengharapan, di mana terdapat ketidakpastian

menyatakan terang, di mana kegelapan berkuasa

membawa kegembiraan, di mana kesedihan mencekam …

Itulah tugas Kristiani yang diberikan Allah kepada Gereja-Nya dengan kelahiran Yesus: menjadi alat damai sejahtera Yesus Kristus.

Tetapi, sekali lagi, damai sejahtera tidak akan ada kalau hanya dislogankan, ia harus diusahakan.

Kalau tidak, orang cuma menjadi sinis dan gereja menjadi ibarat nabi palsu yang oleh Yeremia diejek, “Mereka berkata: Damai sejahtera! Damai sejahtera! Tetapi damai sejahtera itu tidak ada” (Yer. 6:14).

(Dr. Andar Ismail, Selamat Natal, Jakarta 200512, 14-16)

 

Senin, 11 Desember 2006

Jadilah Pembawa Damai Sejahtera.

 

“Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal uang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.”

(Yesaya 65:17)

 

Bangsa Israel memiliki segudang pengalaman bersama dengan Allah. Ketika mereka berada di dalam proses yang up and down bersama dengan Tuhan, ternyata Tuhan tidak pernah membiarkan mereka. Bahkan Tuhan memberikan janji-janji penyertaan-Nya.

Pada perikop ini digambarkan mengenai keadaan yang dipenuhi oleh damai sejahtera. Masa lalu yang buruk akan dilupakan (17), Yerusalem akan dipenuhi dengan sorak-sorai (19), panjang pendeknya umur akan tetap menjadi sesuatu yang berharga (20), hasil pekerjaan dapat dinikmati (21-22) bahkan sebuah keadaan dimana domba dan serigala akan hidup berdampingan (25). Intinya: damai sejahtera itu terwujud.

Bagaimana dengan kita sekarang ini? Tidak jarang kita menganggap damai sejahtera itu akan datang nanti di Sorga. Padahal di dunia pun damai sejahtera itu hadir. Memang damai sejahtera itu belum sempurna dan kekal seperti kelak di sorga, tetapi justru di sinilah tantangannya bagi setiap umat Tuhan.

Lalu bagaimana dengan kita? Kitalah yang berperan untuk mendatangkan damai sejahtera itu. Tetapi kita tidak mungkin dapat menjadi pembawa damai sejahtera, jika kita sendiri belum merasakan damai sejahtera dari sumbernya, yaitu Allah sendiri. Oleh karena itu, buka hubungan kita dengan Tuhan untuk dapat merasakan damai sejahtera itu, dan kemudian mari kita wujudkan hidup kita menjadi pembawa damai sejahtera itu.

 

Doa:

Tuhan, aku ingin bisa menjadi pembawa damai sejahtera-Mu di bumi ini. Amin!

(Wasiat, 27 Desember MMVI)

 

Selasa, 12 Desember 2006

Lilin Kecil

 

Suatu hari, seorang pria menaiki tangga yang cukup tinggi sambil membawa lilin kecil di tangannya menuju sebuah menara. Di dalam perjalanan menaiki tangga tersebut, si lilin kecil bertanya kepada pria yang membawanya, “Kita hendak ke mana?”

“Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberikan petunjuk kepada kapal-kapal besar di tengah lautan yang luas.”

“Apa? Mana mungkin aku bisa memberikan petunjuk kepada kapal-kapal besar dengan cahayaku yang sangat kecil? Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku,” jawab lilin kecil lemah.

“Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah. Yang harus engkau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku,” jawab pria itu.

Tidak lama kemudian, tibalah mereka di puncak menara tempat terdapat lampu yang sangat besar dengan kaca pemantul yang teresdia di belakangnya. Pria itu menyalakan lampu besar dengan menggunakan nyala lemah lilin kecil tadi. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar yang terang benderang sehingga kapal-kapal yang ada di tengah laut melihat cahayanya.

 

Sekecil apapun cahaya kita, kita tetap berguna jika kita tetap bercahaya. Jadilah pembawa damai sejahtera, dimulai dari tempat dan lingkungan yang kecil. Dengan demikian, kita dapat bersama menerangi dunia ini.

(Y. Rumanto, Semangkuk Mie Kuah – Rangkaian Cerita Pemuas Jiwa yang Lapar, Jakarta 2006, 177)

 

Doa:

Karuniakanlah kami sukacita akan kasih-Mu

Untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus, Tuhan kami.

Tolonglah kami untuk melayani-Mu dan sesama kami.

Amin.

 

 

Rabu, 13 Desember 2006

Doa Syafaat

 

Allah Bapa kami, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau berkenan memanggil kami untuk mengenal dan mencintai-Mu, bahkan hidup dari-Mu,

Maranatha, Tuhan datang!

Engkau mengutus Putra-Mu yang terkasih, citra-Mu yang sempurna dan pantulan wajah-Mu sendiri. Dia menjadi sama dengan kami dalam segala hal kecuali dalam hal dosa.

Maranatha, Tuhan datang!

Di dalam Yesus, Engkau memberitakan Kabar Baik kerajaan-Mu; Engkau mengampuni kesalahan kami dan menyembuhkan luka-luka kami.

Maranatha, Tuhan datang!

Peliharalah kami dalam persekutuan kami dengan Putra-Mu; Buatlah kami selalu terjaga dalam menantikan hari kedatangan-Nya.

Maranatha, Tuhan datang!

Berikanlah damai-Mu, ya Tuhan, agar kami mampu saling membagikannya dalam kasih persaudaraan dan melayani sesame kami.

Maranatha, Tuhan datang!

(P. Bernard Keradec, OMI, Doa-doa untuk Setiap Hari – Taizé, Yogyakarta, 2005, 80)

 

Kamis, 14 Desember 2006

Doa Advent

 

Dalam masa Advent, masa penantian akan Tuhan,

Kami yakin akan kebaikan Tuhan.

Kami berpegang pada kasih karunia-Mu.

Kami mendapatkan tempat berteduh dalam kasih setia-Mu.

Dalam masa Advent, masa penantian akan Tuhan,

Kami mengikuti jalan Tuhan.

Kami mengikuti contoh kasih-Mu.

Kami berpegang pada perjanjian-Mu.

Dalam masa Advent, masa penantian ini,

Tuhan, ampunilah kesalahan kami.

Ingatlah akan kasih-Mu.

Ingatlah kami, satu per satu.

Ingatlah akan umat-Mu di mana pun juga.

Dalam masa Advent, masa penantian ini,

Tuhan, kami menunggu keselamatan yang datang dari-Mu,

Kami menunggu pimpinan-Mu.

Kami menunggu kedatangan-Mu.

Amin.

 

Jumat, 15 Desember 2006

Mari Berbuat Baik

 

“Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.”

(Ibr. 10 : 24)

 

Patch Adams, merupakan sebuah film yang memberi pelajaran kepada kita bagaimana berbuat baik kepada sesama. Seorang mahasiswa kedokteran yang memiliki cita-cita untuk menjadi dokter, bukan hanya sekedar untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga menyembuhkan hati-hati yang terluka. Ia berjuang untuk dapat membuat kasih sayang. Dan hal ini pula yang ia ajakan kepada teman-teman di sekelilingnya.

Berapa banyak kebaikan dari orang lain yang sudah anda rasakan? Ketika teman menelpon untuk menanyakan kabar anda, atau ketika pembantu kita menyiapkan makanan yang lezat dan mencuci semua piring kotor bekas makanan kita. Atau jangan-jangan kita tidak sadar bahwa itu semua merupakan kebaikan yang sedang kita terima…

Mungkin tanpa kita sadari sudah banyak sekali kebaikan yang kita terima. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah berapa banyak kebaikan yang orang lain rasakan melalui kehidupan kita? Kita sebagai manusia diciptakan tidak sendirian. Tuhan memang ingin agar kita dapat saling memperhatikan, saling membantu, saling menyayangi, saling berbuat baik satu dengan lainnya. Itulah salah satu kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita memperhatikan sesama dan mau berbuat baik kepada mereka. Perbuatan baik dapat diwujudkan melalui bebagai cara, ketika kita mendoakan teman yang susah, ketika kita mau bersama-sama dengan teman yang sedang membutuhkan kekuatan, dan banyak wujud lainnya. Jadi, kebaikan apa yang sudah anda lakukan hari ini?

 

Doa:

Tuhan, ingatkan aku untuk berbuat baik setiap hari. Amin.

(Wasiat, 22 Desember MMVI)

 

Sabtu, 16 Desember 2006

Arah Potongan

 

Seorang perancang busana ingin membuat rancangan pakaian yang cocok untuk merayakan Natal. Selama ini ia hanya merancang pakaian untuk pesta dan belum pernah menciptakan mode pakaian untuk pergi ke gereja. Oleh sebab itu, ia meminta pertimbangan Pendeta Budi Luhur.

“Menurut Pendeta, pakaian yang bagaimana yang cocok untuk pergi ke gereja?”

“Semua cocok. Yang penting bersih.”

“Maksud saya, jenis potongan yang bagaimana yang dianggap pas?”

“Semua potongan cocok, asalkan arahnya tepat.”

“Maksud Pendeta?”

“Hindarkan potongan atas semakin ke bawah dan bagian bawah jangan dipotong semakin ke atas.”

 

“ … hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara atau pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.” (II Tim. 2:9-20)

(Wahyu Sulistiyana, Merenung sambil Tersenyum-Tersenyum sambil Merenung, Yogyakarta 200611, 67)


Trackbacks & Pingbacks

Komentar

  1. Los empresarios del cava piden a Montilla que “nadie grite contra Espau00c3u00b1a” para evitar boicots Click http://d2.ae/hool090715

    Ditulis 7 months, 4 weeks ago


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: