Corat-coret



BULETIN ADVENT I

DATANGLAH PEMBAWA DAMAI SEJAHTERA, AKU SIAP MENYAMBUTMU!

Bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal

Edisi I: Minggu Advent I, Allah Beserta Kita

Hari ini kita memasuki Masa Raya Advent, dan minggu ini adalah Minggu Advent I. Dalam Masa Raya Advent dan Natal, kita sebagai jemaat berusaha untuk bersama-sama menghayati arti penantian. Untuk itulah, Komisi Iman, Ajaran dan Ibadah GPIB Jemaat Paulus Jakarta mengeluarkan buletin mingguan yang bisa berisi renungan, ilustrasi, doa, puisi, lagu atau bahkan permainan.

Tema besar kita diambil berdasarkan Tema Natal GPI-KWI, Yesus Kristus Pembawa Damai Sejahter (bdk. Efesus 2:14). Tema tersebut dijabarkan dalam buletin Advent berdasarkan gelar bagi Kristus dalam lagu advent, O Datanglah Imanuel (KJ 81). Minggu ini kita menghayati bait pertama dari lagu tersebut:

 

O datanglah, Imanuel, tebus umat-Mu Israel,

Yang dalam berkeluh-kesah menantikan penolong-Nya.

Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

 

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menyadarkan kita semua, betapa pentingnya arti penantian sebelum memasuki masa raya Natal. Seringkali kita langsung hanyut dalam suasana Natal tanpa menghayati makna penantian itu sendiri. Ingatlah betapa kita dulu semasa kecil amat sangat menantikan peringatan hari ulang tahun? Ditunggu-tunggu hingga hari-H tiba. Rasanya jarang sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari, orang yang mau ulang tahunnya dirayakan sebelum jatuh pada harinya. Lebih banyak orang yang merayakan ulang tahun sesudah harinya. Demikian pula dengan peringatan dan penghayatan Masa Raya Natal. Apa benar kita ingin Yesus lahir prematur? Memang, kita juga sedang dalam masa penantian besar. Oleh karena itu, bersiaplah menantikan kedatangan-Nya. Marilah bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal!

 

 

 

Minggu, 3 Desember 2006

Allah Menyertai Kita! Kita yang Mana?

 

Imanuel! Allah menyertai kita! Ah, warga gereja mana yang tidak mengetahuinya. Imanuel digunakan sebagai nama gereja, nama koor, nama sekolah, nama rumah sakit, nama toku buku dan sebagainya. Bagus, kan?

Tetapi, di samping itu, Imanuel pun banyak disalahgunakan. Orang mengucapkan ‘Allah menyertai kita’, seolah-olah dengan ucapan itu secara otomatis Allah akan menyertainya. Tidak banyak bedanya seperti tukang sulap yang mengucapkan ‘sim sim salabim’, lalu dari dalam topinya melompatlah sang kelinci.

Orang pun menyalahgunakan Imanuel sebagai semboyan untuk meyakinkan diri bahwa Allah berada di pihaknya. Atau untuk membenarkan perbuatannya. Para imam dan orang Farisi menghukum Yesus karena menganggap bahwa Yesus menghujat Allah, dan mereka merasa Allah berada di pihak mereka. Para serdadu Perang Salib menyebutkan perang itu ‘Perang Suci’, karena mengangap bahwa Allah berada di pihak mereka. Pasukan Hitler juga beranggapan demikian. Mereka meneror orang Yahudi, padahal pada ikat pinggang pasukan tersebut tertulis ‘Gott mit Uns’, Allah menyertai kita. Apakah menurut Alnda Allah berada di pihak yang meneror? Saya kira Allah lebih suka berada di pihak sang korban.

Ada bahaya bahwa ucapan ‘Allah menyertai kita’ digunakan hanya untuk memperlakukan Allah sebagai konco, alat atau sekutu. Dengan semboyan itu Allah diharapkan memihak, dan tentu saja diharap untuk berpihak kepada mereka.

Orang lupa bahwa Imanuel adalah sebuah nama. Nama seseorang. Nama Yesus. Nama itu dikutip Matius 1:23 dari nubuat Yesaya, “Sesungguhnya, anak dara itu akan datang kepada manusia, dan Allah datang untuk menyertai manusia. mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita.” Artinya, dengan kelahiran Yesus, Allah sendiri yang datang kepada manusia, dan Allah datang untuk menyertai manusia.

Dalam pengertian itulah kita dapat mengatakan Allah menyertai kita. Hanya karena Yesus Kristus-lah Allah menyertai kita. Jadi, Allah menyertai kita, bukan karena kita berada di pihak yang benar. Nota bene, siapa sih yang benar? Melainkan, sekali lagi, Allah menyertai kita karena dan melalui diri Yesus.Sebab itu, dapatkah kita mengucapkan ‘Allah menyertai kita’ bila dalam prakteknya kita hidup di luar jalan dan jejak Yesus Kristus?

Nama Imanuel itu pun mengandung suatu pernyataan. Dengan kedatangan Yesus, berakhirlah sudah zaman murka Allah, yaitu zaman Allah melawan kita dan zaman Allah tanpa kita. Dimulailah sebuah zaman baru di mana Allah menyertai kita dan Allah bersama kita.

Selanjutnya, nama Imanuel pun mengandung suatu janji tentang mutu penyertaan atau kebersamaan Allah. Dalam kehidupan manusia, kebersamaan sering sangat terbatas waktu dan mutunya. Orang hanya mau kebersamaan, sejauh itu masih berguna bagi kepentingannya. Kemarin gambarnya dipajang lagi, hari ini ia diganyang. Hari ini kawan, besok menjadi lawan. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang. Tidak ada kawan abadi, demikian pula tidak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Begitu, bukan? Akan tetapi, nama Imanuel mengandung janji bahwa Allah selama-lamanya akan menyertai kita.

Imanuel! Allah beserta kita! O ya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan ‘kita’? Saya harap Anda tidak berkata bahwa ‘kita’ hanyalah berarti gereja kita, atau suku kita, atau bangsa kita, ataupun agama kita.

(Dr. Andar Ismail, Selamat Natal, Jakarta 200512, 50-52)

 

Senin, 4 Desember 2006

Where is the room?

 

Where is the room,

where is the house of Christmas?

Where shall we welcome Jesus,

where are the signs of home?

 

Let Christ have space,

place at the heart of living,

Centre for birth’s new breathing,

cradle for hope and peace.

 

Let there be room,

room for the friend and stranger,

room without hurt or anger,

room for whoever come.

 

Let love be here,

love from the Christmas stable,

love at our open table,

love to be shared all year.

(Shirley Murray)

 

Melalui syair ini, kita diingatkan kembali, bahwa penyertaan Tuhan selalu senantiasa. Itulah sebabnya, kita sebagai murid-murid-Nya, hendaknya juga memberikan tempat bagi Kristus di hati kita dan membuka diri kita bagi mereka yang datang pada kita. Jika Allah itu setia, mengapa kita tidak dapat membagikan kesetiaan itu bagi sesama kita? Bukan hanya di masa raya Advent dan Natal melainkan sepanjang tahun. Kiranya kasih setia ada di kehidupan kita, sekarang dan selamanya.

 

Selasa, 5 Desember 2006

Tuhan Tidak Ingin Melepaskan Anda

 

Pada suatu hari yang panas di Florida Selatan, seorang anak memutuskan untuk berenang di sungai. Ia begitu semangat untuk berenang hingga ia tidak memperhatikan bahwa ada buaya yang sedang menunggu mangsanya. Buaya itu datang ke pinggir sungai pada saat anak itu berenang menuju tengah sungai.

Sang ibu di kejauhan melihat hal itu. Dengan ketakutan dan rasa panik, ia berlari secepatnya seraya memperingatkan anaknya. Sang anak akhirnya merasakan bahwa ada yang tidak beres dan berenang kembali ke pinggiran sungai. Namun, sayang sekali, tindakan itu agak terlambat! Ketika anak itu mencapai ibunya, buaya itupun mencapai anak itu. Sang ibu berusaha menarik si anak pada kedua lengannya, sedangkan buaya itu menerkam kedua kaki anak itu. Terjadilah pertarungan tari-menarik antara ibu dan buaya. Buaya jauh lebih kuat dari sang ibu, namun sebaliknya sang ibu memiliki begitu besar gairah dan semangat, demi kasih sayang terhadap anaknya. Ia sama sekali tidak rela melepaskan anaknya.

Seorang petani yang kebetulan lewat dengan mobilnya, mendengar teriakan-teriakan ibu tadi, berlari meninggalkan mobilnya dan megambil senapan serta menembak mati buaya itu. Anak itu dirawat di rumah sakit.

Setelah dirawat berminggu-minggu, anak itu selamat. Kedua kakinya meninggalkan banyak bekas luka yang mengerikan akibat serangan buaya yang ganas itu. Pada kedua lengannyapun terdapat bekas-bekas luka yang dalam akibat dari kuku ibunya, akibat kegigihannya untuk mempertahankan jiwa anaknya yang ia kasihi.

Seorang wartawan surat kabar mewawancarai anak itu setelah kejadian berlalu dan menyatakan keinginannya untuk melihat luka-luka anak itu. Sang anak menunjukkan kedua kakinya. Kemudian dengan bangga ia berkata, “Kini, lihatlah kedua lenganku. Di kedua lenganku terdapat pula bekas-bekas luka. Itu karena ibuku tidak rela melepaskanku untuk menjadi mangsa buaya itu.”

Kita dapat menyamakan diri kita dengan anak itu. Kita juga memiliki banyak bekas luka. Tidak, bukan dari seekor buaya, bukan dari sesuatu yang dramatis. Namun bekas luka dari masa lampau yang menyakitkan dan penuh kepedihan. Beberapa dari bekas-bekas luka itu ada yang tak terlihat telah meninggalkan banyak rasa penyesalan. Tapi di samping itu, ada bekas-bekas luka karena Tuhan tidak rela melepaskan kita.

Di tengah-tengah pergumulanmu, Tuhan berada di sampingmu, sedang memegang Anda erat-erat karena Tuhan mengasihimu. Bila Yesus ada di dalam hidupmu maka engkau adalah Anak Allah. Ia ingin melindungi dan memenuhi segala kebutuhanmu di dalam segala aspek hidupmu. Namun seringkali kita masuk ke dalam situasi yang berbahaya. Di dalam sungai kehidupan terdapat banyak bahaya dan kita sering lupa, bahwa musuh senantiasa mengintai untuk menerkam kita.

Pada saat itulah, terjadi pertarungan tarik-menarik dan apabila Anda mendapat bekas-bekas luka dari kasih-Nya di kedua lengan Anda, Anda patut bersyukur. Bersyukurlah karena Tuhan beserta kita!

(_, Kumpulan Ilustrasi dan Humor Rohani I, Semarang, 2001, 37-39)

 

 

Rabu, 6 Desember 2006

Doa Advent

 

O Imanuel,

Anak yang dijanji dan tanda pengharapan,

Engkau datang dari jarak yang jauh, yang tak dapat kami raih,

Namun dekat dengan kami dibandingkan diri kami sendiri,

Sertailah kami dalam hari-hari penantian kami,

Hingga kami juga dapat melahirkan keadilan, kebenaran, keindahan dan kebaikan,

Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami,

Yang bersama dengan Allah dan Roh Kudus,

Beserta dengan kami, satu Tuhan sekarang dan selamanya.

Amin.

 

 

Kamis, 7 Desember 2006

Membuat Iblis Untuk Membayarnya

 

Seorang perempuan Kristen yang tua hidup bertetangga dengan seorang ateis. Setiap hari bila perempuan itu sedang berdoa, ateis itu dapat mendengarnya. Ia berpikir, “Pasti orang itu gila. Apakah ia tidak tahu bahwa sebenarnya tidak Allah?”

Seringkali bila perempuan itu berdoa, ia datang di rumahnya dan mengganggu perempuan itu sambil berkata, “Ibu, mengapa Anda terus berdoa? Apakah Anda tidak tahu bahwa tidak ada Allah?” Namun perempuan itu tidak menghiraukannya dan terus berdoa.

Pada suatu hari, perempuan itu kehabisan bahan makanan. Seperti biasanya, ia berdoa dan menjelaskan kepada Tuhan akan situasinya dan bersyukur kepada-Nya atas perbuatan tangan-Nya.

Seperti biasa, ateis itu mendengar perempuan itu berdoa. Ia berpikir, “Kali ini aku akan mempermainkan perempuan itu.”

Ia pergi ke supermarket dan membeli setumpuk bahan makanan, membawanya ke rumah tetangganya dan meletakkannya di depan pintu masuk. Ia menekan bel dan bersembunyi di belakang semak-semak untuk melihat apa yang akan terjadi. Ketika perempuan itu membuka pintunya, ia melihat tumpukan bahan makanan itu lalu memuji-muji Tuhan dan bersyukur atas anugerah-Nya.

Menyaksikan hal itu, si ateis keluar dari semak lalu berkata, “Perempuan gila, bukan Allahmu yang memberikan bahan makanan itu, melainkan akulah yang melakukannya!”

Mendengar hal itu, si perempuan makin bersorak-sorai, meloncat-loncat dengan girangnya. Ia berlari ke jalanan sambil berseru dan memuji nama Tuhan. Ketika akhirnya si ateis dapat menyusul perempuan itu, ia bertanya apa yang menjadi masalahnya.

Perempuan itu menjawab, “Aku tahu bahwa Tuhan akan memenuhi semua kebutuhanku, namun aku tak mengira bahwa Tuhan membuat si iblis untuk membayarnya!”

(Bag O Laughs, diambil dari Kumpulan, 80-81)

 

 

Jumat, 8 Desember 2006

Piano

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah mengirim anaknya yang berusia sekitar 5 tahun untuk belajar piano di sekolah musik. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pianis terkenal untuk memberikan konser di kota itu. Dalam waktu singkat tiket konser terjual habis. Sang ayah berhasil mendapatkan dua tiket untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, kursi di gedung konser sudah terisi penuh sejam sebelum konser dimulai. Selayaknya seorang anak yang tidak betah duduk dia, si anak menyelinap pergi tanpa sepengetahuan ayahnya.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, barulah si ayah sadar bahwa anaknya tidak ada di sampingnya. Ia makin terkejut ketika akhirnya ia melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis terkenal tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut sang anak dduk di belakang piano dan mulai memainkan lagu sederhana, Twinkle, twinkle little star.

Operator lampu sorot yang terkejut mendengar adanya suara piano, mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu. Ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut dan bergegas naik ke atas panggung.

Melihat sang anak, sang pianis tidak menjadi marah, ia terus tersenyum dan berkata, “Teruslah bermain,” dan sang anak yang mendapat ijin meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahana permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika merka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.

Sang anak menjadi ge-er, pikirnya, “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam kehidupan kita? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita.

Kita adalah anak kecil tadi. Tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tetapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan, hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja untuk diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

Semoga kita tidak menjadi sombong dan jangan pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita!

(Kumpulan., 18)

 

 

Sabtu, 9 Desember 2006

Doa Syukur atas Karya Kristus

 

Engkau kudus, ya Allah yang agung,

Diberkatilah Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami.

Engkau mengirim-Nya datang ke dunia

untuk memenuhi kerinduan umat-Mu akan seorang Juruselamat,

untuk membawa kebebasan dari dosa,

dan untuk menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas.

Ia datang sebagai salah seorang di antara kita,

menjadi miskin,

merasakan penderitaan manusia.

Kita bersukacita bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya,

Engkau memberikan perjanjian akan hidup baru,

harapan akan rumah sorgawi

di mana kita akan duduk bersama

di sekeliling meja bersama Kristus, sang Tuan Rumah.

Amin.


Trackbacks & Pingbacks

Komentar

  1. * annie says:

    kehidupan yang diberkati adalah kehidupan yang mengarahkan pandangan dan harapan kita kepada Dia sang Juruselamat.

    Selamat merayakan masa Adven tahun 2008

    Ditulis 8 years ago
  2. * erika says:

    Selamat memasuki masa Advent di surga sana, Sahabat. I miss you soooo much..

    Ditulis 6 years, 1 month ago


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: