Corat-coret



Liturgi dan Ritual

Minggu lalu kita telah membahas mengenai asal kata liturgi, yaitu leitourgia dan apa yang terjadi di dalam liturgi atau ibadah. Ibadah adalah interaksi antara Tuhan Sang Pencipta yang menyelamatkan kita melalui pengorbanan Yesus Kristus dan kita, manusia berdosa yang telah ditebus dosanya. Kita mengungkapkan syukur kita melalui ibadah kita.

Dalam edisi kita, kita akan membahas liturgi dalam arti luas serta hubungannya dengan ritual. Sedangkan minggu depan, akan kita teruskan dengan membahas liturgi dalam arti sempit.

Liturgi dalam arti luas adalah ibadah kita dalam seluruh hidup kita. Ibadah dalam kehidupan mencakup berbagai hal, misalnya doa, nyanyian pujian, ibadah hari Minggu, ibadah harian dan juga tindak-tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pusat kehidupan kita adalah ibadah kita, ungkapan syukur kita atas karya keselamatan Tuhan.

Liturgi adalah sesuatu yang dilakukan terus-menerus secara teratur namun tetap spontan dan tidak sama. Ritual adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara teratur dan menggunakan simbolik tertentu. Ibadah hari Minggu adalah salah satu contoh ritual.

Contoh lain yang sederhana adalah berdoa. Paling tidak dalam sehari kita minimal berdoa lima kali, yaitu doa di pagi dan malam hari serta tiga kali doa makan. Kita bersyukur karena telah diberikan hari yang baru dan dapat beristirahat. Kita bersyukur karena kita boleh mendapatkan makanan yang secukupnya hingga kita dapat bekerja dengan baik serta berkarya sebagai anak-anak Kristus.

Ritual itu mengingatkan kita bahwa kita patut bersyukur karena karya keselamatan tersebut. Melalui ritual, kita juga diingatkan bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat jalan sendiri. Ritual membuat kita lebih menyadari siapa diri kita dan apa yang harus kita lakukan. Ibadah bukan hanya terjadi di hari Minggu tapi kita juga dapat memulai ritual sederhana masing-masing.

Tradisi ibadah harian Kristen berasal dari tradisi Yahudi. Orang Yahudi beribadah tiga kali sehari, pada pagi, siang dan malam hari. Hal ini sesuai dengan pembakaran kurban di Bait Allah sebanyak tiga kali sehari dan berdasarkan ritual yang ada di dalam Alkitab (contoh: Daniel berdoa tiga kali sehari).

Tentu amat sukar bagi kita di dunia yang serba sibuk ini untuk melakukan ibadah harian secara lengkap. Namun, bukan berarti kita tidak dapat melakukannya. Saat teduh di pagi hari membuat kita siap untuk menghadapi hari yang baru ini. Kita bersyukur bahwa Tuhan telah menjaga kita di malam hari dan telah membangunkan kita. Di siang hari, kita bisa berdoa dan membaca kitab mazmur. Di siang hari kita berdoa supaya Tuhan menguatkan kita dan menjaga kita supaya tidak lengah dan jatuh dalam pencobaan. Kita juga dapat merenungkan apa yang Tuhan inginkan dari kita, apakah maksud kita ada di dunia ini, dengan pekerjaan kita, dengan keberadaan kita. Apakah yang bisa kita lakukan untuk sesame kita manusia. Di sore hari, kita bisa berdoa mengucap syukur bahwa pekerjaan kita telah selesai dan hari hampir berakhir. Kita juga hendaknya merenungkan, apa saja yang telah kita perbuat. Apakah kita telah menyakiti hati orang lain? Atau apakah kita telah menjadi terang dan garam dunia? Apakah kita melakukan tugas-tugas kita dengan baik? Atau malah membuang-buang waktu kita? Di malam hari, kita berdoa supaya Tuhan memberikan kita istirahat yang cukup dan menjaga kita di malam hari supaya iblis tidak mengganggu kita.

Itu adalah sekedar contoh ritual sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentu saja akan banyak alasan yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Namun, jika Tuhan telah begitu mengasihi kita, apakah yang telah kita berikan sebagai tanda syukur kita?

Memulai suatu ritual tidaklah mudah namun jika kita memusatkan perhatian kita pada salib Kristus, bahwa oleh bilur-bilur-Nya, oleh kematian-Nya, kita diselamatkan, masih bisakah kita berkeras hati untuk tidak melayani Dia dalam perbuatan kita sehari-hari? Bukan hanya melalui berdoa tapi juga melalui pekerjaan kita.

Liturgi atau ibadah bukanlah kata benda saja namun yang lebih penting, liturgi adalah kata kerja. Selamat beribadah.(CM)

Artikel ini dimuat dalam Jurnal IAI GPIB Paulus, Minggu 24 September 2006. Dilarang menggunakan materi ini untuk kepentingan apapun tanpa izin penulis (+62-813-16224962). Jika mengutip, harap mencantumkan nama penulis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: