Corat-coret



Kita tuh jadi apa sih di jemaat?

Kemarin pagi ada khotbah serial di gereja. Cantabile Choir bertugas sebagai kantoria dan aku sendiri bertugas sebagai organis. Seperti biasa jika ada khotbah serial, gedung gereja penuh sesak dengan umat. Sampai-sampai di gedung pertemuan disediakan layar supaya jemaat yang tidak dapat tempat di gedung gereja dapat duduk di gedung pertemuan dan turut beribadah.

Senang sekali mendengar jemaat yang menyanyi dengan semangat ’45. Dan yang lebih menyenangkan, tidak ada suara yang menonjol satu pun karena tidak ada pemandu lagu, hanya ada kantoria dan majelis jemaat juga tidak bernyanyi di depan mikrofon. Seandainya ibadah tiap minggu seperti ini, Gereja Paulus akan menjadi jemaat yang hidup.

Namun, pertanyaan yang diberikan adalah apa kita benar-benar merupakan jemaat yang hidup dan saling melayani? Hari ini dibicarakan mengenai pelayanan. Seringkali kita sudah tidak tahu apa yang dimaksud dengan pelayanan yang sesungguhnya. Melalui Markus 2:1-12, kita diingatkan kembali apa makna pelayanan yang sesungguhnya.

Peristiwa Yesus menyembuhkan orang lumpuh memiliki makna yang dalam bagi kita. Sesuatu dapat dilihat hanya sebagai peristiwa tapi yang lebih penting yang harus kita ingat adalah apa makna dari peristiwa tersebut. Makna tersebut memiliki dimensi waktu baik waktu lampau, masa kini dan waktu yang akan datang. Melalui peristiwa tersebut, Tuhan Yesus memberitakan kepada khalayak ramai bahwa Ia memiliki kuasa yang besar hingga Ia dapat berkata kepada si orang lumpuh bahwa dosanya telah diampuni sehingga si lumpuh dapat berjalan kembali.

Dalam peristiwa tersebut ada banyak tokoh yang memiliki fungsi masing-masing. Tokoh pertama adalah sang pemilik rumah yang menjadi fasilitator. Kemudian di rumah tersebut ada kerumunan orang banyak yang merupakan spektator (penonton yang pasif). Namun di tengah kerumunan orang banyak itu ada 4 orang yang memiliki empati sehingga mereka menolong si lumpuh untuk datang kepada Yesus, mereka adalah inisiator, sedangkan si lumpuh adalah …. Kita juga melihat bahwa ada orang Farisi yang selalu protes, mereka adalah para provokator. Tokoh utama dalam peristiwa ini tentulah Yesus Kristus, sang Juruselamat atau salvator.

Melalui tokoh-tokoh ini kita diingatkan akan peran kita dalam berjemaat. Apakah kita hanya sekedar menjadi seorang fasilitator yang menyediakan segala sesuatu tapi tidak peduli dengan apa yang telah diberikan dan tidak berpartisipasi dalam kehidupan berjemaat? Sekedar menyumbang ini itu namun tidak mau terlibat langsung dalam pelayanan. Itu merupakan suatu kelumpuhan.

Ataukah kita sekedar menjadi penggembira seperti para spektator yang sekedar menonton? Benarkah kita berempati dan menjadi seperti keempat orang inisiator? Yang tanpa menyerah (walaupun pintu tertutup massa) tetap berusaha untuk masuk hingga dapat mencapai tujuan (melalui atap dan tingkap di bubungan hingga dapat masuk ke dalam untuk bertemu Yesus). Atau jangan-jangan kita lebih suka memberikan berbagai macam kritik seperti para provokator? Memberikan kritik, mencari cara untuk menjatuhkan orang lain, iri hati dan dengki.

Hanya kita sendiri yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semuanya merupakan kelumpuhan. Apa sebab kelumpuhan tersebut? Melalui pernyataan Yesus, jelaslah bahwa penyebab kelumpuhan kita adalah dosa. Itu sebabnya, si lumpuh dapat berjalan ketika Yesus bersabda bahwa dosanya telah diampuni. Jelaslah bahwa tanpa penyerahan diri, pertobatan, penguasaan diri dan kerendahan hati, kita tidak akan dapat disembuhkan.

Kerap kali sebagai seseorang yang memiliki autoritas tertentu, kita lupa diri. Sebagai manusia sering kita ingin memegahkan diri kita. Namun dengan penguasaan diri, penyerahan dan kerendahan hati, kita berusaha untuk menjadi seperti Yesus Kristus yang dipaparkan dalam Injil Markus. Dalam kitab Markus, Yesus diceritakan sebagai seseorang yang memiliki kuasa yang tinggi dan ajaib namun tidak pernah ingin memamerkan hal tersebut. Hanya dalam peristiwa-peristiwa tertentu Yesus menggunakan kekuasaan yang ada pada-Nya. Itu juga bukan untuk ajang pamer dan unjuk kekuasaan namun makna dari peristiwa itu adalah untuk memuliakan dan membesarkan nama Allah Bapa di sorga serta memberitakan kabar baik bagi umat manusia.

Kiranya kita semua bisa lebih menyadari peran kita sebagai murid-murid Kristus. Pelayanan bukanlah kata-kata murahan yang dipakai kapan saja dan di mana saja. Pelayanan adalah suatu perbuatan yang membebaskan orang-orang dari kelumpuhan. Membawa kebebasan bagi orang-orang yang terkungkung. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan rahmat. Ia mengasihi kita selama kita juga mengasihi-Nya. Sudah selayaknya, kita yang telah merasakan kasih karunia Tuhan, memberitakan itu dan membaginya bagi mereka yang masih belum terbebaskan. Baik melalui kata dan perbuatan kita. Baik di rumah, di tempat kerja dan di mana saja. Jangan seperti orang Farisi yang seringkali sekedar mengucapkan kata-kata namun lebih seperti murid-murid Yesus yang bertingkah laku sesuai dengan buah-buah roh.

Selamat memasuki minggu yang baru. Kiranya kita diberi kekuatan untuk memasuki minggu yang baru, dengan karsa dan karya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo Gloria!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: