Corat-coret


Buletin Advent II

Edisi II: Minggu Advent II, Pembawa Damai Sejahtera

Hari ini kita memasuki Masa Raya Advent, dan minggu ini adalah Minggu Advent II. Dalam Masa Raya Advent dan Natal, kita sebagai jemaat berusaha untuk bersama-sama menghayati arti penantian. Untuk itulah, Komisi Iman, Ajaran dan Ibadah GPIB Jemaat Paulus Jakarta mengeluarkan buletin mingguan yang bisa berisi renungan, ilustrasi, doa, puisi, lagu atau bahkan permainan.

Tema besar kita diambil berdasarkan Tema Natal GPI-KWI, Yesus Kristus Pembawa Damai Sejahtera (bdk. Efesus 2:14). Tema tersebut dijabarkan dalam buletin Advent berdasarkan gelar bagi Kristus dalam lagu advent, O Datanglah Imanuel (KJ 81). Minggu ini kita menghayati bait kedua dari lagu tersebut:

 

O datang, Tunas Isai, patahkan belenggu pedih

dan umat-Mu lepaskanlah dari lembah sengsaranya.

Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

 

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menyadarkan kita semua, betapa pentingnya arti penantian sebelum memasuki masa raya Natal. Seringkali kita langsung hanyut dalam suasana Natal tanpa menghayati makna penantian itu sendiri. Ingatlah betapa kita dulu semasa kecil amat sangat menantikan peringatan hari ulang tahun? Ditunggu-tunggu hingga hari-H tiba. Rasanya jarang sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari, orang yang mau ulang tahunnya dirayakan sebelum jatuh pada harinya. Lebih banyak orang yang merayakan ulang tahun sesudah harinya. Demikian pula dengan peringatan dan penghayatan Masa Raya Natal. Apa benar kita ingin Yesus lahir prematur? Memang, kita juga sedang dalam masa penantian besar. Oleh karena itu, bersiaplah menantikan kedatangan-Nya. Marilah bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal!

 

 

Minggu, 10 Desember 2006

Jadikan Aku Alat Damai Sejahtera-Mu

 

Dalam nubuat di Yesaya 9:5 yang berbunyi, “ … dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai,” Yesus disebut Raja Salam atau Raja Damai.

Sayang, kata salam dan damai sudah agak merosot artinya. Salam diartikan orang sebagai tabik. Misalnya dalam ucapan “kirim salam”. Kalau orang mengatakan bersalaman, artinya hanya berjabat tangan. Kata damai pun diartikan sebagai keadaan tidak perang. Padahal maksud sebenarnya adalah jauh lebih luas dan dalam.

Latar belakang kata damai atau salam di Alkitab adalah kata Ibrani: syalom. Arti kata syalom dapat kita lihat dari contoh-contoh berikut ini:

Jika bangsa dan negara berada dalam persatuan, tak terpecah dan tak terkotak, maka dikatakan bahwa bangsa dan negara berada dalam syalom. Di sini syalom berarti keutuhan.

Jika dua orang atau dua kelompok berdamai kembali dan memulihkan lagi hubungannya setelah beberapa waktu terputus atau renggang, maka dikatakan antara kedua orang atau kelompok itu terdapat syalom. Di sini syalom berarti keselarasan.

Jika panen berhasil dan tiap orang tercukupi kebutuhan hidupnya, maka disebutlah rakyat hidup dalam syalom. Di sini syalom berarti damai sejahtera atau makmur atau berkat.

Jika suatu perjalanan telah kita lewati dengan baik, tanpa gangungguan atau kecelakaan, maka dikatakan kita telah mendapat syalom. Di sini syalom berarti selamat.

Demikianlah syalom mengandung arti yang luas dan dalam. Tiap kali Alkitab berkata tentang damai sejahtera, maka yang dimaksud adalah syalom, yakni utuh, selaras, berkat, selamat, bahagia, sehat, tertib, semua berada dan berfungsi sebagaimana seharusnya.

Yesus disebut Raja Damai. Pada kelahiran-Nya malaikat mengatakan, “Damai sejahtera di antara manusia” (Luk. 2:14). Dengan kelahiran Yesus, maka dimulailah suatu zaman baru di mana Allah bersedia memulihkan kembali hubungan dengan manusia. Keadaan damai antara manusia dengan Allah menghasilkan pula keadaan damai di antara manusia.

Tetapi damai sejahtera bukan turun begitu saja dari langit. Ia harus diusahakan, dengan itikad baik dan kesungguhan.

Ada gereja-gereja yang mempunyai kelaziman menaikkan doa Franciscus dari Asisi pada kebaktian Natal. Sebagian dari doa itu berbunyi:

Ya Tuhan, jadikanlah aku alat damai sejahtera-Mu

supaya aku mengasihi, di mana ada kebencian

memaafkan, di mana ada saling menghina

mempersatukan, di mana ada pertentangan

menimbulkan pengharapan, di mana terdapat ketidakpastian

menyatakan terang, di mana kegelapan berkuasa

membawa kegembiraan, di mana kesedihan mencekam …

Itulah tugas Kristiani yang diberikan Allah kepada Gereja-Nya dengan kelahiran Yesus: menjadi alat damai sejahtera Yesus Kristus.

Tetapi, sekali lagi, damai sejahtera tidak akan ada kalau hanya dislogankan, ia harus diusahakan.

Kalau tidak, orang cuma menjadi sinis dan gereja menjadi ibarat nabi palsu yang oleh Yeremia diejek, “Mereka berkata: Damai sejahtera! Damai sejahtera! Tetapi damai sejahtera itu tidak ada” (Yer. 6:14).

(Dr. Andar Ismail, Selamat Natal, Jakarta 200512, 14-16)

 

Senin, 11 Desember 2006

Jadilah Pembawa Damai Sejahtera.

 

“Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal uang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.”

(Yesaya 65:17)

 

Bangsa Israel memiliki segudang pengalaman bersama dengan Allah. Ketika mereka berada di dalam proses yang up and down bersama dengan Tuhan, ternyata Tuhan tidak pernah membiarkan mereka. Bahkan Tuhan memberikan janji-janji penyertaan-Nya.

Pada perikop ini digambarkan mengenai keadaan yang dipenuhi oleh damai sejahtera. Masa lalu yang buruk akan dilupakan (17), Yerusalem akan dipenuhi dengan sorak-sorai (19), panjang pendeknya umur akan tetap menjadi sesuatu yang berharga (20), hasil pekerjaan dapat dinikmati (21-22) bahkan sebuah keadaan dimana domba dan serigala akan hidup berdampingan (25). Intinya: damai sejahtera itu terwujud.

Bagaimana dengan kita sekarang ini? Tidak jarang kita menganggap damai sejahtera itu akan datang nanti di Sorga. Padahal di dunia pun damai sejahtera itu hadir. Memang damai sejahtera itu belum sempurna dan kekal seperti kelak di sorga, tetapi justru di sinilah tantangannya bagi setiap umat Tuhan.

Lalu bagaimana dengan kita? Kitalah yang berperan untuk mendatangkan damai sejahtera itu. Tetapi kita tidak mungkin dapat menjadi pembawa damai sejahtera, jika kita sendiri belum merasakan damai sejahtera dari sumbernya, yaitu Allah sendiri. Oleh karena itu, buka hubungan kita dengan Tuhan untuk dapat merasakan damai sejahtera itu, dan kemudian mari kita wujudkan hidup kita menjadi pembawa damai sejahtera itu.

 

Doa:

Tuhan, aku ingin bisa menjadi pembawa damai sejahtera-Mu di bumi ini. Amin!

(Wasiat, 27 Desember MMVI)

 

Selasa, 12 Desember 2006

Lilin Kecil

 

Suatu hari, seorang pria menaiki tangga yang cukup tinggi sambil membawa lilin kecil di tangannya menuju sebuah menara. Di dalam perjalanan menaiki tangga tersebut, si lilin kecil bertanya kepada pria yang membawanya, “Kita hendak ke mana?”

“Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberikan petunjuk kepada kapal-kapal besar di tengah lautan yang luas.”

“Apa? Mana mungkin aku bisa memberikan petunjuk kepada kapal-kapal besar dengan cahayaku yang sangat kecil? Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku,” jawab lilin kecil lemah.

“Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah. Yang harus engkau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku,” jawab pria itu.

Tidak lama kemudian, tibalah mereka di puncak menara tempat terdapat lampu yang sangat besar dengan kaca pemantul yang teresdia di belakangnya. Pria itu menyalakan lampu besar dengan menggunakan nyala lemah lilin kecil tadi. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar yang terang benderang sehingga kapal-kapal yang ada di tengah laut melihat cahayanya.

 

Sekecil apapun cahaya kita, kita tetap berguna jika kita tetap bercahaya. Jadilah pembawa damai sejahtera, dimulai dari tempat dan lingkungan yang kecil. Dengan demikian, kita dapat bersama menerangi dunia ini.

(Y. Rumanto, Semangkuk Mie Kuah – Rangkaian Cerita Pemuas Jiwa yang Lapar, Jakarta 2006, 177)

 

Doa:

Karuniakanlah kami sukacita akan kasih-Mu

Untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus, Tuhan kami.

Tolonglah kami untuk melayani-Mu dan sesama kami.

Amin.

 

 

Rabu, 13 Desember 2006

Doa Syafaat

 

Allah Bapa kami, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau berkenan memanggil kami untuk mengenal dan mencintai-Mu, bahkan hidup dari-Mu,

Maranatha, Tuhan datang!

Engkau mengutus Putra-Mu yang terkasih, citra-Mu yang sempurna dan pantulan wajah-Mu sendiri. Dia menjadi sama dengan kami dalam segala hal kecuali dalam hal dosa.

Maranatha, Tuhan datang!

Di dalam Yesus, Engkau memberitakan Kabar Baik kerajaan-Mu; Engkau mengampuni kesalahan kami dan menyembuhkan luka-luka kami.

Maranatha, Tuhan datang!

Peliharalah kami dalam persekutuan kami dengan Putra-Mu; Buatlah kami selalu terjaga dalam menantikan hari kedatangan-Nya.

Maranatha, Tuhan datang!

Berikanlah damai-Mu, ya Tuhan, agar kami mampu saling membagikannya dalam kasih persaudaraan dan melayani sesame kami.

Maranatha, Tuhan datang!

(P. Bernard Keradec, OMI, Doa-doa untuk Setiap Hari – Taizé, Yogyakarta, 2005, 80)

 

Kamis, 14 Desember 2006

Doa Advent

 

Dalam masa Advent, masa penantian akan Tuhan,

Kami yakin akan kebaikan Tuhan.

Kami berpegang pada kasih karunia-Mu.

Kami mendapatkan tempat berteduh dalam kasih setia-Mu.

Dalam masa Advent, masa penantian akan Tuhan,

Kami mengikuti jalan Tuhan.

Kami mengikuti contoh kasih-Mu.

Kami berpegang pada perjanjian-Mu.

Dalam masa Advent, masa penantian ini,

Tuhan, ampunilah kesalahan kami.

Ingatlah akan kasih-Mu.

Ingatlah kami, satu per satu.

Ingatlah akan umat-Mu di mana pun juga.

Dalam masa Advent, masa penantian ini,

Tuhan, kami menunggu keselamatan yang datang dari-Mu,

Kami menunggu pimpinan-Mu.

Kami menunggu kedatangan-Mu.

Amin.

 

Jumat, 15 Desember 2006

Mari Berbuat Baik

 

“Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.”

(Ibr. 10 : 24)

 

Patch Adams, merupakan sebuah film yang memberi pelajaran kepada kita bagaimana berbuat baik kepada sesama. Seorang mahasiswa kedokteran yang memiliki cita-cita untuk menjadi dokter, bukan hanya sekedar untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga menyembuhkan hati-hati yang terluka. Ia berjuang untuk dapat membuat kasih sayang. Dan hal ini pula yang ia ajakan kepada teman-teman di sekelilingnya.

Berapa banyak kebaikan dari orang lain yang sudah anda rasakan? Ketika teman menelpon untuk menanyakan kabar anda, atau ketika pembantu kita menyiapkan makanan yang lezat dan mencuci semua piring kotor bekas makanan kita. Atau jangan-jangan kita tidak sadar bahwa itu semua merupakan kebaikan yang sedang kita terima…

Mungkin tanpa kita sadari sudah banyak sekali kebaikan yang kita terima. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah berapa banyak kebaikan yang orang lain rasakan melalui kehidupan kita? Kita sebagai manusia diciptakan tidak sendirian. Tuhan memang ingin agar kita dapat saling memperhatikan, saling membantu, saling menyayangi, saling berbuat baik satu dengan lainnya. Itulah salah satu kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

Firman Tuhan mengingatkan kita agar kita memperhatikan sesama dan mau berbuat baik kepada mereka. Perbuatan baik dapat diwujudkan melalui bebagai cara, ketika kita mendoakan teman yang susah, ketika kita mau bersama-sama dengan teman yang sedang membutuhkan kekuatan, dan banyak wujud lainnya. Jadi, kebaikan apa yang sudah anda lakukan hari ini?

 

Doa:

Tuhan, ingatkan aku untuk berbuat baik setiap hari. Amin.

(Wasiat, 22 Desember MMVI)

 

Sabtu, 16 Desember 2006

Arah Potongan

 

Seorang perancang busana ingin membuat rancangan pakaian yang cocok untuk merayakan Natal. Selama ini ia hanya merancang pakaian untuk pesta dan belum pernah menciptakan mode pakaian untuk pergi ke gereja. Oleh sebab itu, ia meminta pertimbangan Pendeta Budi Luhur.

“Menurut Pendeta, pakaian yang bagaimana yang cocok untuk pergi ke gereja?”

“Semua cocok. Yang penting bersih.”

“Maksud saya, jenis potongan yang bagaimana yang dianggap pas?”

“Semua potongan cocok, asalkan arahnya tepat.”

“Maksud Pendeta?”

“Hindarkan potongan atas semakin ke bawah dan bagian bawah jangan dipotong semakin ke atas.”

 

“ … hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara atau pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.” (II Tim. 2:9-20)

(Wahyu Sulistiyana, Merenung sambil Tersenyum-Tersenyum sambil Merenung, Yogyakarta 200611, 67)


BULETIN ADVENT I

DATANGLAH PEMBAWA DAMAI SEJAHTERA, AKU SIAP MENYAMBUTMU!

Bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal

Edisi I: Minggu Advent I, Allah Beserta Kita

Hari ini kita memasuki Masa Raya Advent, dan minggu ini adalah Minggu Advent I. Dalam Masa Raya Advent dan Natal, kita sebagai jemaat berusaha untuk bersama-sama menghayati arti penantian. Untuk itulah, Komisi Iman, Ajaran dan Ibadah GPIB Jemaat Paulus Jakarta mengeluarkan buletin mingguan yang bisa berisi renungan, ilustrasi, doa, puisi, lagu atau bahkan permainan.

Tema besar kita diambil berdasarkan Tema Natal GPI-KWI, Yesus Kristus Pembawa Damai Sejahter (bdk. Efesus 2:14). Tema tersebut dijabarkan dalam buletin Advent berdasarkan gelar bagi Kristus dalam lagu advent, O Datanglah Imanuel (KJ 81). Minggu ini kita menghayati bait pertama dari lagu tersebut:

 

O datanglah, Imanuel, tebus umat-Mu Israel,

Yang dalam berkeluh-kesah menantikan penolong-Nya.

Bersoraklah, hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

 

Tujuan dari buletin ini adalah untuk menyadarkan kita semua, betapa pentingnya arti penantian sebelum memasuki masa raya Natal. Seringkali kita langsung hanyut dalam suasana Natal tanpa menghayati makna penantian itu sendiri. Ingatlah betapa kita dulu semasa kecil amat sangat menantikan peringatan hari ulang tahun? Ditunggu-tunggu hingga hari-H tiba. Rasanya jarang sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari, orang yang mau ulang tahunnya dirayakan sebelum jatuh pada harinya. Lebih banyak orang yang merayakan ulang tahun sesudah harinya. Demikian pula dengan peringatan dan penghayatan Masa Raya Natal. Apa benar kita ingin Yesus lahir prematur? Memang, kita juga sedang dalam masa penantian besar. Oleh karena itu, bersiaplah menantikan kedatangan-Nya. Marilah bersama melangkah memasuki Masa Raya Natal!

 

 

 

Minggu, 3 Desember 2006

Allah Menyertai Kita! Kita yang Mana?

 

Imanuel! Allah menyertai kita! Ah, warga gereja mana yang tidak mengetahuinya. Imanuel digunakan sebagai nama gereja, nama koor, nama sekolah, nama rumah sakit, nama toku buku dan sebagainya. Bagus, kan?

Tetapi, di samping itu, Imanuel pun banyak disalahgunakan. Orang mengucapkan ‘Allah menyertai kita’, seolah-olah dengan ucapan itu secara otomatis Allah akan menyertainya. Tidak banyak bedanya seperti tukang sulap yang mengucapkan ‘sim sim salabim’, lalu dari dalam topinya melompatlah sang kelinci.

Orang pun menyalahgunakan Imanuel sebagai semboyan untuk meyakinkan diri bahwa Allah berada di pihaknya. Atau untuk membenarkan perbuatannya. Para imam dan orang Farisi menghukum Yesus karena menganggap bahwa Yesus menghujat Allah, dan mereka merasa Allah berada di pihak mereka. Para serdadu Perang Salib menyebutkan perang itu ‘Perang Suci’, karena mengangap bahwa Allah berada di pihak mereka. Pasukan Hitler juga beranggapan demikian. Mereka meneror orang Yahudi, padahal pada ikat pinggang pasukan tersebut tertulis ‘Gott mit Uns’, Allah menyertai kita. Apakah menurut Alnda Allah berada di pihak yang meneror? Saya kira Allah lebih suka berada di pihak sang korban.

Ada bahaya bahwa ucapan ‘Allah menyertai kita’ digunakan hanya untuk memperlakukan Allah sebagai konco, alat atau sekutu. Dengan semboyan itu Allah diharapkan memihak, dan tentu saja diharap untuk berpihak kepada mereka.

Orang lupa bahwa Imanuel adalah sebuah nama. Nama seseorang. Nama Yesus. Nama itu dikutip Matius 1:23 dari nubuat Yesaya, “Sesungguhnya, anak dara itu akan datang kepada manusia, dan Allah datang untuk menyertai manusia. mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita.” Artinya, dengan kelahiran Yesus, Allah sendiri yang datang kepada manusia, dan Allah datang untuk menyertai manusia.

Dalam pengertian itulah kita dapat mengatakan Allah menyertai kita. Hanya karena Yesus Kristus-lah Allah menyertai kita. Jadi, Allah menyertai kita, bukan karena kita berada di pihak yang benar. Nota bene, siapa sih yang benar? Melainkan, sekali lagi, Allah menyertai kita karena dan melalui diri Yesus.Sebab itu, dapatkah kita mengucapkan ‘Allah menyertai kita’ bila dalam prakteknya kita hidup di luar jalan dan jejak Yesus Kristus?

Nama Imanuel itu pun mengandung suatu pernyataan. Dengan kedatangan Yesus, berakhirlah sudah zaman murka Allah, yaitu zaman Allah melawan kita dan zaman Allah tanpa kita. Dimulailah sebuah zaman baru di mana Allah menyertai kita dan Allah bersama kita.

Selanjutnya, nama Imanuel pun mengandung suatu janji tentang mutu penyertaan atau kebersamaan Allah. Dalam kehidupan manusia, kebersamaan sering sangat terbatas waktu dan mutunya. Orang hanya mau kebersamaan, sejauh itu masih berguna bagi kepentingannya. Kemarin gambarnya dipajang lagi, hari ini ia diganyang. Hari ini kawan, besok menjadi lawan. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang. Tidak ada kawan abadi, demikian pula tidak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Begitu, bukan? Akan tetapi, nama Imanuel mengandung janji bahwa Allah selama-lamanya akan menyertai kita.

Imanuel! Allah beserta kita! O ya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan ‘kita’? Saya harap Anda tidak berkata bahwa ‘kita’ hanyalah berarti gereja kita, atau suku kita, atau bangsa kita, ataupun agama kita.

(Dr. Andar Ismail, Selamat Natal, Jakarta 200512, 50-52)

 

Senin, 4 Desember 2006

Where is the room?

 

Where is the room,

where is the house of Christmas?

Where shall we welcome Jesus,

where are the signs of home?

 

Let Christ have space,

place at the heart of living,

Centre for birth’s new breathing,

cradle for hope and peace.

 

Let there be room,

room for the friend and stranger,

room without hurt or anger,

room for whoever come.

 

Let love be here,

love from the Christmas stable,

love at our open table,

love to be shared all year.

(Shirley Murray)

 

Melalui syair ini, kita diingatkan kembali, bahwa penyertaan Tuhan selalu senantiasa. Itulah sebabnya, kita sebagai murid-murid-Nya, hendaknya juga memberikan tempat bagi Kristus di hati kita dan membuka diri kita bagi mereka yang datang pada kita. Jika Allah itu setia, mengapa kita tidak dapat membagikan kesetiaan itu bagi sesama kita? Bukan hanya di masa raya Advent dan Natal melainkan sepanjang tahun. Kiranya kasih setia ada di kehidupan kita, sekarang dan selamanya.

 

Selasa, 5 Desember 2006

Tuhan Tidak Ingin Melepaskan Anda

 

Pada suatu hari yang panas di Florida Selatan, seorang anak memutuskan untuk berenang di sungai. Ia begitu semangat untuk berenang hingga ia tidak memperhatikan bahwa ada buaya yang sedang menunggu mangsanya. Buaya itu datang ke pinggir sungai pada saat anak itu berenang menuju tengah sungai.

Sang ibu di kejauhan melihat hal itu. Dengan ketakutan dan rasa panik, ia berlari secepatnya seraya memperingatkan anaknya. Sang anak akhirnya merasakan bahwa ada yang tidak beres dan berenang kembali ke pinggiran sungai. Namun, sayang sekali, tindakan itu agak terlambat! Ketika anak itu mencapai ibunya, buaya itupun mencapai anak itu. Sang ibu berusaha menarik si anak pada kedua lengannya, sedangkan buaya itu menerkam kedua kaki anak itu. Terjadilah pertarungan tari-menarik antara ibu dan buaya. Buaya jauh lebih kuat dari sang ibu, namun sebaliknya sang ibu memiliki begitu besar gairah dan semangat, demi kasih sayang terhadap anaknya. Ia sama sekali tidak rela melepaskan anaknya.

Seorang petani yang kebetulan lewat dengan mobilnya, mendengar teriakan-teriakan ibu tadi, berlari meninggalkan mobilnya dan megambil senapan serta menembak mati buaya itu. Anak itu dirawat di rumah sakit.

Setelah dirawat berminggu-minggu, anak itu selamat. Kedua kakinya meninggalkan banyak bekas luka yang mengerikan akibat serangan buaya yang ganas itu. Pada kedua lengannyapun terdapat bekas-bekas luka yang dalam akibat dari kuku ibunya, akibat kegigihannya untuk mempertahankan jiwa anaknya yang ia kasihi.

Seorang wartawan surat kabar mewawancarai anak itu setelah kejadian berlalu dan menyatakan keinginannya untuk melihat luka-luka anak itu. Sang anak menunjukkan kedua kakinya. Kemudian dengan bangga ia berkata, “Kini, lihatlah kedua lenganku. Di kedua lenganku terdapat pula bekas-bekas luka. Itu karena ibuku tidak rela melepaskanku untuk menjadi mangsa buaya itu.”

Kita dapat menyamakan diri kita dengan anak itu. Kita juga memiliki banyak bekas luka. Tidak, bukan dari seekor buaya, bukan dari sesuatu yang dramatis. Namun bekas luka dari masa lampau yang menyakitkan dan penuh kepedihan. Beberapa dari bekas-bekas luka itu ada yang tak terlihat telah meninggalkan banyak rasa penyesalan. Tapi di samping itu, ada bekas-bekas luka karena Tuhan tidak rela melepaskan kita.

Di tengah-tengah pergumulanmu, Tuhan berada di sampingmu, sedang memegang Anda erat-erat karena Tuhan mengasihimu. Bila Yesus ada di dalam hidupmu maka engkau adalah Anak Allah. Ia ingin melindungi dan memenuhi segala kebutuhanmu di dalam segala aspek hidupmu. Namun seringkali kita masuk ke dalam situasi yang berbahaya. Di dalam sungai kehidupan terdapat banyak bahaya dan kita sering lupa, bahwa musuh senantiasa mengintai untuk menerkam kita.

Pada saat itulah, terjadi pertarungan tarik-menarik dan apabila Anda mendapat bekas-bekas luka dari kasih-Nya di kedua lengan Anda, Anda patut bersyukur. Bersyukurlah karena Tuhan beserta kita!

(_, Kumpulan Ilustrasi dan Humor Rohani I, Semarang, 2001, 37-39)

 

 

Rabu, 6 Desember 2006

Doa Advent

 

O Imanuel,

Anak yang dijanji dan tanda pengharapan,

Engkau datang dari jarak yang jauh, yang tak dapat kami raih,

Namun dekat dengan kami dibandingkan diri kami sendiri,

Sertailah kami dalam hari-hari penantian kami,

Hingga kami juga dapat melahirkan keadilan, kebenaran, keindahan dan kebaikan,

Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami,

Yang bersama dengan Allah dan Roh Kudus,

Beserta dengan kami, satu Tuhan sekarang dan selamanya.

Amin.

 

 

Kamis, 7 Desember 2006

Membuat Iblis Untuk Membayarnya

 

Seorang perempuan Kristen yang tua hidup bertetangga dengan seorang ateis. Setiap hari bila perempuan itu sedang berdoa, ateis itu dapat mendengarnya. Ia berpikir, “Pasti orang itu gila. Apakah ia tidak tahu bahwa sebenarnya tidak Allah?”

Seringkali bila perempuan itu berdoa, ia datang di rumahnya dan mengganggu perempuan itu sambil berkata, “Ibu, mengapa Anda terus berdoa? Apakah Anda tidak tahu bahwa tidak ada Allah?” Namun perempuan itu tidak menghiraukannya dan terus berdoa.

Pada suatu hari, perempuan itu kehabisan bahan makanan. Seperti biasanya, ia berdoa dan menjelaskan kepada Tuhan akan situasinya dan bersyukur kepada-Nya atas perbuatan tangan-Nya.

Seperti biasa, ateis itu mendengar perempuan itu berdoa. Ia berpikir, “Kali ini aku akan mempermainkan perempuan itu.”

Ia pergi ke supermarket dan membeli setumpuk bahan makanan, membawanya ke rumah tetangganya dan meletakkannya di depan pintu masuk. Ia menekan bel dan bersembunyi di belakang semak-semak untuk melihat apa yang akan terjadi. Ketika perempuan itu membuka pintunya, ia melihat tumpukan bahan makanan itu lalu memuji-muji Tuhan dan bersyukur atas anugerah-Nya.

Menyaksikan hal itu, si ateis keluar dari semak lalu berkata, “Perempuan gila, bukan Allahmu yang memberikan bahan makanan itu, melainkan akulah yang melakukannya!”

Mendengar hal itu, si perempuan makin bersorak-sorai, meloncat-loncat dengan girangnya. Ia berlari ke jalanan sambil berseru dan memuji nama Tuhan. Ketika akhirnya si ateis dapat menyusul perempuan itu, ia bertanya apa yang menjadi masalahnya.

Perempuan itu menjawab, “Aku tahu bahwa Tuhan akan memenuhi semua kebutuhanku, namun aku tak mengira bahwa Tuhan membuat si iblis untuk membayarnya!”

(Bag O Laughs, diambil dari Kumpulan, 80-81)

 

 

Jumat, 8 Desember 2006

Piano

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah mengirim anaknya yang berusia sekitar 5 tahun untuk belajar piano di sekolah musik. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pianis terkenal untuk memberikan konser di kota itu. Dalam waktu singkat tiket konser terjual habis. Sang ayah berhasil mendapatkan dua tiket untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, kursi di gedung konser sudah terisi penuh sejam sebelum konser dimulai. Selayaknya seorang anak yang tidak betah duduk dia, si anak menyelinap pergi tanpa sepengetahuan ayahnya.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, barulah si ayah sadar bahwa anaknya tidak ada di sampingnya. Ia makin terkejut ketika akhirnya ia melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis terkenal tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut sang anak dduk di belakang piano dan mulai memainkan lagu sederhana, Twinkle, twinkle little star.

Operator lampu sorot yang terkejut mendengar adanya suara piano, mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu. Ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut dan bergegas naik ke atas panggung.

Melihat sang anak, sang pianis tidak menjadi marah, ia terus tersenyum dan berkata, “Teruslah bermain,” dan sang anak yang mendapat ijin meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahana permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika merka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.

Sang anak menjadi ge-er, pikirnya, “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam kehidupan kita? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita.

Kita adalah anak kecil tadi. Tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia. Tetapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan, hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja untuk diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

Semoga kita tidak menjadi sombong dan jangan pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita!

(Kumpulan., 18)

 

 

Sabtu, 9 Desember 2006

Doa Syukur atas Karya Kristus

 

Engkau kudus, ya Allah yang agung,

Diberkatilah Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami.

Engkau mengirim-Nya datang ke dunia

untuk memenuhi kerinduan umat-Mu akan seorang Juruselamat,

untuk membawa kebebasan dari dosa,

dan untuk menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas.

Ia datang sebagai salah seorang di antara kita,

menjadi miskin,

merasakan penderitaan manusia.

Kita bersukacita bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya,

Engkau memberikan perjanjian akan hidup baru,

harapan akan rumah sorgawi

di mana kita akan duduk bersama

di sekeliling meja bersama Kristus, sang Tuan Rumah.

Amin.


Pieta, The Joyful Sorrow of Mary

Konser yang diselenggarakan oleh Anavathmi Musica pada tanggal 22 September di Gedung Gereja Jemaat GPIB Paulus, Jakarta, cukup menarik. Seperti biasa, ruangan ibadah hanya diterangi dengan lampu kristal yang memancarkan sinar hangat berwarna kuning. Di pusat liturgi, terdapat dua ikon Maria Sang Bunda Allah dan beberapa lilin. Satu karangan bunga membuat kontras di antara warna yang kegelapan.

Konser dibuka dengan karya pembuka ibadah dari Paul Bryan (*1950), Festive Procession. Idealnya pada saat prosesi ini paduan suara berprosesi menuju ke dalam gereja. Mungkin ide bagus untuk konser yang akan datang. Setelah itu Terra Voce Music Consort membawaka empat lagu yang bertemakan Maria dan kasih seorang ibu. Kombinasi yang cukup menarik antara tiga komponis akhir masa renaissance (Thomas Tallis, Jacob Arcadelt dan Thomas Louis de Victoria) dan lagu Kasih Ibu dengan aransemen yang menarik dari Nindya Tri Harbanu.

Blok kedua terdiri dari dua karya orgel pipa dari Johann Caspar Simon dan Heinrich Nicolaus Gerber, yang dimainkan oleh Christina Mandang. Preludium dan Fuga dari Simon adalah salah satu contoh musik barok yang “mengerikan” dengan kecepatan tangganada dan fuga yang bersahut-sahutan. Inventio dari Gerber adalah sebuah trio, di mana tangan kanan dan kiri serta kaki memainkan temanya masing-masing. Kadang-kadang berdialog, kadang-kadang berjalan masing-masing. Orgel Paulus buatan PT Prajawidya Instrumentalia yang rampung tahun 1997, cukup dapat mengeluarkan bunyi yang menarik untuk trio ini.

Ivan Jonathan (tenor) menyanyikan dua karya terkenal, yaitu Bist du bei mir dari Bach dan Ave Verum Corpus karya Edward Elgar. Gabriel Rehatta mengiringi dengan orgel dan amat mendukung isi syair.

Ave Verum Corpus ciptaan Mozart dimainkan di antara kedua lagu tersebut oleh Christina Mandang,
sebelum akhirnya ia memainkan 4 bagian dari L’Heure Mystiques karya Leon Boelmann. Karya ini benar-benar amat tenang dan mempersiapkan para hadirin untuk memasuki bagian yang cukup panjang, yaitu sebuah karya Giovanni Baptista Pergolesi, Stabat Mater Dolorosa. Karya ini menceritakan tentang Sang Bunda yang berduka di depan salib anak-Nya.

Paduan Suara Anak Ascencio di bawah pimpinan A.Soetanta SJ membawakan karya ini dengan indahnya. Ivan Jonathan menyelingi di bagian tengah dengan menyanyikan lagu Vergin Tutto Amor karya Francesco Durante.

Melalui acara ini kita diingatkan kembali akan penderitaan Kristus. Konser ini diselenggarakan untuk memperingati Perayaan Bunda Maria Berduka-cita. Penderitaan Kristus adalah penderitaan Maria, sebagai Bunda-Nya. Pesta ini mengingatkan kita akan karya keselamatan Allah pada kita. Penderitaan manusia akan berakhir karena dalam ketaatan pada Allah, kita akan diselamatkan. Penderitaan itu membawa sukacita apabila penderitaan itu dilakukan dengan sukarela dan penuh rasa taat.


Liturgi dan Ritual

Minggu lalu kita telah membahas mengenai asal kata liturgi, yaitu leitourgia dan apa yang terjadi di dalam liturgi atau ibadah. Ibadah adalah interaksi antara Tuhan Sang Pencipta yang menyelamatkan kita melalui pengorbanan Yesus Kristus dan kita, manusia berdosa yang telah ditebus dosanya. Kita mengungkapkan syukur kita melalui ibadah kita.

Dalam edisi kita, kita akan membahas liturgi dalam arti luas serta hubungannya dengan ritual. Sedangkan minggu depan, akan kita teruskan dengan membahas liturgi dalam arti sempit.

Liturgi dalam arti luas adalah ibadah kita dalam seluruh hidup kita. Ibadah dalam kehidupan mencakup berbagai hal, misalnya doa, nyanyian pujian, ibadah hari Minggu, ibadah harian dan juga tindak-tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pusat kehidupan kita adalah ibadah kita, ungkapan syukur kita atas karya keselamatan Tuhan.

Liturgi adalah sesuatu yang dilakukan terus-menerus secara teratur namun tetap spontan dan tidak sama. Ritual adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara teratur dan menggunakan simbolik tertentu. Ibadah hari Minggu adalah salah satu contoh ritual.

Contoh lain yang sederhana adalah berdoa. Paling tidak dalam sehari kita minimal berdoa lima kali, yaitu doa di pagi dan malam hari serta tiga kali doa makan. Kita bersyukur karena telah diberikan hari yang baru dan dapat beristirahat. Kita bersyukur karena kita boleh mendapatkan makanan yang secukupnya hingga kita dapat bekerja dengan baik serta berkarya sebagai anak-anak Kristus.

Ritual itu mengingatkan kita bahwa kita patut bersyukur karena karya keselamatan tersebut. Melalui ritual, kita juga diingatkan bahwa kita adalah manusia berdosa yang tidak dapat jalan sendiri. Ritual membuat kita lebih menyadari siapa diri kita dan apa yang harus kita lakukan. Ibadah bukan hanya terjadi di hari Minggu tapi kita juga dapat memulai ritual sederhana masing-masing.

Tradisi ibadah harian Kristen berasal dari tradisi Yahudi. Orang Yahudi beribadah tiga kali sehari, pada pagi, siang dan malam hari. Hal ini sesuai dengan pembakaran kurban di Bait Allah sebanyak tiga kali sehari dan berdasarkan ritual yang ada di dalam Alkitab (contoh: Daniel berdoa tiga kali sehari).

Tentu amat sukar bagi kita di dunia yang serba sibuk ini untuk melakukan ibadah harian secara lengkap. Namun, bukan berarti kita tidak dapat melakukannya. Saat teduh di pagi hari membuat kita siap untuk menghadapi hari yang baru ini. Kita bersyukur bahwa Tuhan telah menjaga kita di malam hari dan telah membangunkan kita. Di siang hari, kita bisa berdoa dan membaca kitab mazmur. Di siang hari kita berdoa supaya Tuhan menguatkan kita dan menjaga kita supaya tidak lengah dan jatuh dalam pencobaan. Kita juga dapat merenungkan apa yang Tuhan inginkan dari kita, apakah maksud kita ada di dunia ini, dengan pekerjaan kita, dengan keberadaan kita. Apakah yang bisa kita lakukan untuk sesame kita manusia. Di sore hari, kita bisa berdoa mengucap syukur bahwa pekerjaan kita telah selesai dan hari hampir berakhir. Kita juga hendaknya merenungkan, apa saja yang telah kita perbuat. Apakah kita telah menyakiti hati orang lain? Atau apakah kita telah menjadi terang dan garam dunia? Apakah kita melakukan tugas-tugas kita dengan baik? Atau malah membuang-buang waktu kita? Di malam hari, kita berdoa supaya Tuhan memberikan kita istirahat yang cukup dan menjaga kita di malam hari supaya iblis tidak mengganggu kita.

Itu adalah sekedar contoh ritual sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentu saja akan banyak alasan yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Namun, jika Tuhan telah begitu mengasihi kita, apakah yang telah kita berikan sebagai tanda syukur kita?

Memulai suatu ritual tidaklah mudah namun jika kita memusatkan perhatian kita pada salib Kristus, bahwa oleh bilur-bilur-Nya, oleh kematian-Nya, kita diselamatkan, masih bisakah kita berkeras hati untuk tidak melayani Dia dalam perbuatan kita sehari-hari? Bukan hanya melalui berdoa tapi juga melalui pekerjaan kita.

Liturgi atau ibadah bukanlah kata benda saja namun yang lebih penting, liturgi adalah kata kerja. Selamat beribadah.(CM)

Artikel ini dimuat dalam Jurnal IAI GPIB Paulus, Minggu 24 September 2006. Dilarang menggunakan materi ini untuk kepentingan apapun tanpa izin penulis (+62-813-16224962). Jika mengutip, harap mencantumkan nama penulis.


APA ITU LITURGI?

Seringkali kita menganggap liturgi adalah sekedar tata ibadah saja. Padahal kata liturgi memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekedar sehelai kertas yang memuat susunan mata acara ibadah kita.

Liturgi berasal dari bahasa Yunani, leitourgia. Kata leitourgia terdiri dari dua kata laos (umat) dan ergon (karya). Liturgi merupakan bakti dan karya umat sebagai ungkapan syukur bagi Tuhan atas karya keselamatan yang telah diberikan pada kita. Dengan demikian jelaslah bahwa liturgi adalah ibadah. Pada perkembangannya, istilah ini dipersempit sehingga sekarang, tidak jarang kita berpendapat bahwa liturgi adalah kertas tata ibadah saja.

Dalam ibadah ada dua hal penting yang terjadi. Yang pertama adalah pemberitaan mengenai karya Tuhan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus yang telah mati disalibkan untuk membebaskan kita umat manusia dari belenggu dosa. Atas karya keselamatan tersebut, kita, umat yang dibebaskan, mengungkapkan syukur kita bagi Tuhan. Dengan demikian, ibadah bersifat aktif dan dilakukan secara sadar. Ibadah adalah kata kerja dan bukan kata benda.

Jemaat memegang peranan penting dalam penyelenggaraan ibadah tersebut karena itu adalah respons kita sebagai umat percaya kepada Tuhan. Ibadah kita adalah persembahan yang sejati, kata Rasul Paulus dalam Roma 12:1, “Karena itu saudara-saudaraku, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Ibadah membawa kita datang ke hadirat Tuhan. Ibadah yang bersifat pribadi tersebut haruslah tetap dengan penuh hormat dan keagungan karena Allah kita adalah Allah yang Maha Agung dan Maha Besar. Layakkah kita datang ke hadirat-Nya begitu saja tanpa persiapan? Itu sebabnya penting sekali bagi kita semua untuk mempersiapkan diri kita datang menghadap hadirat Tuhan.

Bukan para petugas ibadah (pendeta, majelis, pemusik, pemandu lagu, paduan suara) yang harus mempersiapkan diri tapi juga umat. Persiapan ibadah biasanya dilakukan pada hari Jumat bagi para majelis jemaat, pada saat latihan-latihan paduan suara dan latihan musik pribadi. Pada saat kita akan beribadah, kita mempersiapkan diri melalui saat teduh dan doa pribadi sebelum ibadah dimulai. Apa yang kita doakan? Mendoakan supaya kita ditenangkan dan dapat menjalankan ibadah dengan baik, berpartisipasi aktif dan dengan sadar beribadah, bukan sekedar rutinitas saja. Tubuh kita adalah Bait Allah dan sudah selayaknya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan hidup bagi Allah.

Liturgi atau ibadah amatlah luas. Dalam liturgi ada tata waktu, tata gerak, tata ruang, tata laksana, simbolik dan sebagainya. Hal-hal ini akan dibahas dalam rubrik Sekilas Liturgi yang akan datang. (CM)

Artikel ini dimuat dalam Jurnal IAI GPIB Paulus, Minggu 17 September 2006. Jurnal Komisi IAI adalah salah satu sarana informasi dan pengembangan ibadah di jemaat GPIB Paulus Jakarta. IAI adalah Komisi Iman, Ajaran dan Ibadah. Dilarang menggunakan materi ini untuk kepentingan apapun tanpa izin penulis (+62-813-16224962). Jika mengutip, harap mencantumkan nama penulis.


Kita tuh jadi apa sih di jemaat?

Kemarin pagi ada khotbah serial di gereja. Cantabile Choir bertugas sebagai kantoria dan aku sendiri bertugas sebagai organis. Seperti biasa jika ada khotbah serial, gedung gereja penuh sesak dengan umat. Sampai-sampai di gedung pertemuan disediakan layar supaya jemaat yang tidak dapat tempat di gedung gereja dapat duduk di gedung pertemuan dan turut beribadah.

Senang sekali mendengar jemaat yang menyanyi dengan semangat ’45. Dan yang lebih menyenangkan, tidak ada suara yang menonjol satu pun karena tidak ada pemandu lagu, hanya ada kantoria dan majelis jemaat juga tidak bernyanyi di depan mikrofon. Seandainya ibadah tiap minggu seperti ini, Gereja Paulus akan menjadi jemaat yang hidup.

Namun, pertanyaan yang diberikan adalah apa kita benar-benar merupakan jemaat yang hidup dan saling melayani? Hari ini dibicarakan mengenai pelayanan. Seringkali kita sudah tidak tahu apa yang dimaksud dengan pelayanan yang sesungguhnya. Melalui Markus 2:1-12, kita diingatkan kembali apa makna pelayanan yang sesungguhnya.

Peristiwa Yesus menyembuhkan orang lumpuh memiliki makna yang dalam bagi kita. Sesuatu dapat dilihat hanya sebagai peristiwa tapi yang lebih penting yang harus kita ingat adalah apa makna dari peristiwa tersebut. Makna tersebut memiliki dimensi waktu baik waktu lampau, masa kini dan waktu yang akan datang. Melalui peristiwa tersebut, Tuhan Yesus memberitakan kepada khalayak ramai bahwa Ia memiliki kuasa yang besar hingga Ia dapat berkata kepada si orang lumpuh bahwa dosanya telah diampuni sehingga si lumpuh dapat berjalan kembali.

Dalam peristiwa tersebut ada banyak tokoh yang memiliki fungsi masing-masing. Tokoh pertama adalah sang pemilik rumah yang menjadi fasilitator. Kemudian di rumah tersebut ada kerumunan orang banyak yang merupakan spektator (penonton yang pasif). Namun di tengah kerumunan orang banyak itu ada 4 orang yang memiliki empati sehingga mereka menolong si lumpuh untuk datang kepada Yesus, mereka adalah inisiator, sedangkan si lumpuh adalah …. Kita juga melihat bahwa ada orang Farisi yang selalu protes, mereka adalah para provokator. Tokoh utama dalam peristiwa ini tentulah Yesus Kristus, sang Juruselamat atau salvator.

Melalui tokoh-tokoh ini kita diingatkan akan peran kita dalam berjemaat. Apakah kita hanya sekedar menjadi seorang fasilitator yang menyediakan segala sesuatu tapi tidak peduli dengan apa yang telah diberikan dan tidak berpartisipasi dalam kehidupan berjemaat? Sekedar menyumbang ini itu namun tidak mau terlibat langsung dalam pelayanan. Itu merupakan suatu kelumpuhan.

Ataukah kita sekedar menjadi penggembira seperti para spektator yang sekedar menonton? Benarkah kita berempati dan menjadi seperti keempat orang inisiator? Yang tanpa menyerah (walaupun pintu tertutup massa) tetap berusaha untuk masuk hingga dapat mencapai tujuan (melalui atap dan tingkap di bubungan hingga dapat masuk ke dalam untuk bertemu Yesus). Atau jangan-jangan kita lebih suka memberikan berbagai macam kritik seperti para provokator? Memberikan kritik, mencari cara untuk menjatuhkan orang lain, iri hati dan dengki.

Hanya kita sendiri yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semuanya merupakan kelumpuhan. Apa sebab kelumpuhan tersebut? Melalui pernyataan Yesus, jelaslah bahwa penyebab kelumpuhan kita adalah dosa. Itu sebabnya, si lumpuh dapat berjalan ketika Yesus bersabda bahwa dosanya telah diampuni. Jelaslah bahwa tanpa penyerahan diri, pertobatan, penguasaan diri dan kerendahan hati, kita tidak akan dapat disembuhkan.

Kerap kali sebagai seseorang yang memiliki autoritas tertentu, kita lupa diri. Sebagai manusia sering kita ingin memegahkan diri kita. Namun dengan penguasaan diri, penyerahan dan kerendahan hati, kita berusaha untuk menjadi seperti Yesus Kristus yang dipaparkan dalam Injil Markus. Dalam kitab Markus, Yesus diceritakan sebagai seseorang yang memiliki kuasa yang tinggi dan ajaib namun tidak pernah ingin memamerkan hal tersebut. Hanya dalam peristiwa-peristiwa tertentu Yesus menggunakan kekuasaan yang ada pada-Nya. Itu juga bukan untuk ajang pamer dan unjuk kekuasaan namun makna dari peristiwa itu adalah untuk memuliakan dan membesarkan nama Allah Bapa di sorga serta memberitakan kabar baik bagi umat manusia.

Kiranya kita semua bisa lebih menyadari peran kita sebagai murid-murid Kristus. Pelayanan bukanlah kata-kata murahan yang dipakai kapan saja dan di mana saja. Pelayanan adalah suatu perbuatan yang membebaskan orang-orang dari kelumpuhan. Membawa kebebasan bagi orang-orang yang terkungkung. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih dan rahmat. Ia mengasihi kita selama kita juga mengasihi-Nya. Sudah selayaknya, kita yang telah merasakan kasih karunia Tuhan, memberitakan itu dan membaginya bagi mereka yang masih belum terbebaskan. Baik melalui kata dan perbuatan kita. Baik di rumah, di tempat kerja dan di mana saja. Jangan seperti orang Farisi yang seringkali sekedar mengucapkan kata-kata namun lebih seperti murid-murid Yesus yang bertingkah laku sesuai dengan buah-buah roh.

Selamat memasuki minggu yang baru. Kiranya kita diberi kekuatan untuk memasuki minggu yang baru, dengan karsa dan karya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo Gloria!


Hari Minggu

Hari Minggu, hari libur tapi sekaligus hari sibuk. Seharusnya hari ini bersantai-ria dengan keluarga. Tapi aku malah sibuk dengan memberikan lokakarya mengiringi nyanyian jemaat. Tapi senang juga sih, melihat beberapa orang peserta yang memang bagus dan berbakat. Jika diasah dan dihaluskan, mereka akan menjadi pengiring nyanyian jemaat yang baik.

Prioritas ada macam-macam. Entah kenapa, di Indonesia ini pasti kepentingan sosial akan lebih diutamakan dibandingkan kepentingan pribadi. Tentu saja di samping Tuhan di atas segala-galanya, keluarga tetap merupakan hal utama di atas pekerjaan. :) Itu sebabnya, sesibuk-sibuknya aku, pasti tetap saja keluargaku kuperhatikan. Biar bagaimanapun juga, kalau ada apa-apa pasti tetap saja larinya ke Pa dan Ma.

Makna kekeluargaan amat penting di dalam kehidupan seseorang. Jika seorang anak bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat dan dapat dipercaya, pasti ia akan bertumbuh menjadi seseorang yang akan mementingkan kehangatan dan kepercayaan dalam kehidupan sehari-harinya. Begitu banyak contoh yang kulihat. Namun tentu saja, ada juga keluarga yang kelihatannya indah di luar namun di dalamnya rusak berantakan. Tiap keluarga memiliki pergumulan masing-masing, tinggal kita sendiri yang secara bijaksana menyelesaikan segala perkara yang ada di dalam keluarga kita. Tentu bukan dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri tapi dengan berserah pada kehendak-Nya. Segala sesuatu itu pasti ada maksudnya.

Sebagai manusia yang dikaruniai akal budi, hendaknya kita juga kritis berpikir dan juga merenungkan, apa sebenarnya maksud Tuhan dengan segala sesuatu yang kita alami. Apa yang kira-kira diinginkan dari kita supaya kita dapat berarti dalam kehidupan ini? Sudahkah kita memenuhi tugas dan kewajiban kita? Apakah kita benar-benar berbuah dan menjadi saluran berkat bagi orang lain? Tidak usah yang muluk-muluk tapi dimulai dengan perbuatan kecil yang mungkin sepele. Tersenyumlah dengan tulus dan sapalah orang yang kita temui. Walaupun kecil, kita telah memperhatikan makhluk ciptaan Tuhan. Perhatian kita pada orang lain akan membuat orang tersebut merasa berarti. Dengan demikian, kita telah berbuat suatu kebaikan kecil, membahagiakan orang lain. Selamat memasuki minggu yang baru.


What a day!

It’s been a busy day. This week has been a weird week because of the tsunami in Pangandaran and the earthquake in Jakarta. Frankly, I didn’t feel the earthquake. I was busy teaching piano and I just didn’t feel it. My friend called me while I was walking to my car and asked me whether we would still going to the movie. We would go to the movie in the evening. I was surprised when he told me that there had been an earthquake just then. On the way home I listened to the radio and they were broadcasting about the quake. In evening, my friend and I had dinner instead of  going to the movie.

The earthquake was scarry for someone who never felt a quake, like me. It just made me thinking about the end of the world. It’s coming indeed but we’ll never know when. The only thing we can do is by doing the right thing like the 5 wise girls. Be prepared!



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.